HUKUM ARISAN QUR’BAN MENURUT KONSEP ISLAM

Ada lagi pola berqurban yang banyak dilakukan oleh sebagian masyarakat, yaitu arisan qurban. Fenomena ini cukup banyak terjadi akhir-akhir ini. Tujuannya tentu untuk ibadah, tetapi bagaimana dengan hukumnya, tentu harus dibahas dengan lebih teliti.

Setidaknya ada dua hal yang perlu dibahas. Pertama, hukum arisan itu sendiri, ada yang halal dan ada yang haram. Kedua, hukum menyembelih hewan qurban dengan uang hutang.

1. Hukum Arisan

Prinsipnya, kalau sistem dan tata cara arisan itu halal, maka hukumnya cenderung jadi halal juga. Sebaliknya, bila sistem arisannya haram, karena mengandung unsur yang bertentangan dengan syariat Islam, maka arisan Qurban pun hukumnya haram juga.

Ada begitu banyak sistem dan tata cara arisan, kita tidak bisa langsung mengeluarkan vonis bahwa semua arisan itu halal atau sebaliknya. Tetapi harus kita bedah terlebih dahulu satu per satu pada masing-masing kasus.

a. Semua Harus Dapat Giliran Menang

Untuk membedakan antara arisan dengan perjudian, dalam arisan yang halal, prinsipnya semua anggota harus dapat giliran menang. Sehingga pada akhirnya tidak ada anggota yang untung atau rugi secara finansial, karena uang mereka tidak bertambah dan tidak berkurang.

Untuk memudahkannya, mari kita buat ilustrasi sederhana. Anggaplah ada sebuah permainan yang melibatkan tiga anggota. Hak dan kewajiban anggota permainan adalah membayar sejumlah uang tertentu pada tiap pengocokan. Setelah dikocok, maka yang namanya keluar adalah pemenang dan dia berhak mendapat uang dari ketiga anggota yang telah disetorkan.

Sampai disini, belum ada bedanya antara arisan dan perjudian. Dan kalau hanya sekali saja pengocokan itu dilakukan, maka arisan ini tidak lain adalah perjudian yang diharamkan.

Agar tidak haram, maka pengocokan itu harus berjalan sebanyak jumlah anggota permainan, dimana sistem dan tata caranya memastikan bahwa tiga orang pemain satu per satu harus mendapat giliran menang.

Maka yang namanya sudah keluar dan jadi pemenang, tidak boleh lagi diikutkan dalam pengocokan. Sehingga dari tiga kali pengocokan, keluarlah tiga pemenang yang berbeda.

Artinya dalam hal ini, fungsi pengocokan hanya sekedar menetapkan siapa yang berhak mengambil hadiah duluan, dan bila sudah pernah menang, dia tidak lagi berhak. Sedangkan dalam sebuah perjudian, pemenang ditentukan dari hasil pengocokan, namun si pemenang dimungkinkan untuk menang berkali-kali. Maka disitulah letak titik perbedaan utama antara arisan yang halal dan perjudian yang haram.

b. Nilai Setoran Tidak Boleh Berbeda Kemenangan

Arisan yang haram hukumnya adalah bila jumlah total uang yang disetorkan berbeda dengan nilai yang didapat ketika menang.

Sebagai contoh misalnya, hadiah buat pemenang arisan nilainya berubah-ubah pada tiap pengocokan. Pada pengocokan pertama, jumlah nilai bagi pemenang ditetapkan sebesar 30 ribu rupiah, maka masing-masing anggota dharuskan mengeluarkan uang 10 ribu rupiah.

Tiba-tiba pada pengocokan kedua, disepakati bahwa jumlahuang buat pemenang diubah menjadi 45 ribu rupiah, sehinggamasing-masing anggota harus mengeluarkan uang 15 ribu rupiah.

Dan pada pengocokan ketiga, disepakati bahwa uang buat pemenang ditetapkan hanya 24 ribu rupiah saja, sehingga masing-masing anggota cukup mengeluarkan uang sebesar 8 ribu.

Cara ini jelas haram hukumnya. Karena kalau kita kalkulasi secara total dari awal hingga akhir, ada pihak yang untung dan ada yang rugi. Selama tiga kali pengocokan, masing-masing anggota harus menyetorkan uang sebesar 10 ribu, ditambah 15 ribu dan 8 ribu, sama dengan 33 ribu.

Tetapi uang yang diterima oleh masing-masing pemenang ternyata berbeda. Pemenang yang mendapat giliran pertama mendapat 30 ribu, sedangkan pemenang giliran kedua mendapat 45 ribu dan pemenang giliran ketiga hanya mendapat 24 ribu. Cara ini 100% sama persis dengan perjudian, bahkan sesungguhnya ini adalah perjudian itu sendiri. Dan hukumnya jelas haram.

Maka hukum arisan qurban itu menjadi haram, bila pemenangnya dipastikan mendapatkan kambing, yang harganya tiap tahun selalu berubah. Tahun ini harganya 1,5 juta, boleh jadi tahun depan harganya naik menjadi 2 juta. Dan tahun-tahun ke depan, harganya mungkin mencapai 3 juta.

Kalau mau halal, yang dijadikan hadiah bukan kambingnya, melainkan uangnya. Dimana nilai uang itu tidak akan berubah tiap tahun.

Walau pun sebenarnya tetap saja arisan kambing qurban ini dirasa riskan dan beresiko. Sebab arisan ini pastinya hanya dikosong setahun sekali, kalau anggotanya ada 10 orang, maka akan terjadi hutang piutang yang jangka waktunya cukup lama.

Walau pun nilai uangnya tiap tahun sama, 2 juta rupiah misalnya, tetapi nilai 2 juta rupiah di tahun akan berbeda pada 10 tahun lagi. Dua juta ruiah di tahun ini bisa untuk membeli kambing, sedangkan 10 tahun lagi, uang 2 juta rupiah itu hanya bisa untuk membeli anak kambing.

Maka kalau mau aman, jangan arisan jangka panjang dengan menggunaka uang rupiah, tetap gunakan saja emas, atau mata uang asing yang lebih stabil seperti riyal atau dolar.

2. Berkurban Dengan Uang Hutang

Berquban dengan cara ikut arisan pada prinsipnya tidak lain adalah berkurban tetapi dengan uang yang didapat dari hutang. Dengan pengecualian buat pemenang giliran terakhir, dia tidak termasuk. Namun selain si pemenang terakhir, mulai dari pemenang pertama, kedua dan seterusnya, masuk hukumnya pada orang yang berkurban dengan uang hutang dari orang lain.

Pertanyaannya, bolehkah berkurban dengan uang hasil dari berhutang?

Jawabnya bahwa para ulama berbeda pendapat dalam masalah ini. Ada pihak yang membolehkan dan ada yang tidak membolehkan.

a. Membolehkan

Di antara pihak yang membolehkan berqurban dengan uang hasil hutang adalah Imam Abu Hatim sebagaimana dinukil oleh Ibn Katsir dari Sufyan At Tsauri. Sufyan al-Tsauri rahimahullah mengatakan: “Dulu Abu Hatim pernah berhutang untuk membeli unta kurban. Beliau ditanya: “Apakah kamu berhutang untuk membeli unta kurban?” beliau jawab: “Saya mendengar

Allah berfirman:

“Kamu memperoleh kebaikan yang banyak padanya (unta-unta kurban tersebut).” (QS. Al Hajj: 36)

b. Tidak Membolehkan

Sebagian ulama lain menyarankan untuk mendahulukan pelunasan hutang dari pada berkurban. Artinya, tidak dianjurkan berhutang demi sekedar melaksanakan penyembelihan hewan qurban yang hukumnya sunnah.

Syaikh Ibn Utsaimin mengatakan, “Jika orang punya hutang maka selayaknya mendahulukan pelunasan hutangnya daripada berkurban.” (Syarhul Mumti’, jilid 7 hal. 455)

Bahkan Beliau pernah ditanya tentang hukum orang yang  tidak jadi kurban karena uangnya diserahkan kepada temannya yang sedang terlilit hutang, dan beliau jawab, “Jika dihadapkan dua permasalahan antara berkurban atau melunasi hutang orang yang faqir maka lebih utama melunasi hutang tersebut, lebih-lebih jika orang yang sedang terlilit hutang tersebut adalah kerabat dekat.” (Majmu’ Fatawa & Risalah Ibn Utsaimin, jilid 18 hal. 144)

Sejatinya, pernyataan-pernyataan ulama di atas tidaklah saling bertentangan. Karena perbedaan ini didasari oleh perbedaan dalam memandang keadaan orang yang berhutang.

Sikap ulama yang menyarankan untuk berhutang ketika berqurban adalah untuk orang yang keadaanya mudah dalam melunasi hutang atau untuk hutang yang jatuh temponya masih panjang. Sedangkan anjuran sebagian ulama untuk mendahulukan pelunasan hutang daripada kurban adalah untuk orang yang kesulitan melunasi hutang atau pemiliknya meminta agar segera dilunasi.

Dengan demikian, jika arisan kurban kita golongkan sebagai hutang yang jatuh temponya panjang atau hutang yang mudah dilunasi maka berkurban dengan arisan adalah satu hal yang baik.

DASAR HUKUM JAM KERJA PNS 37.5 JAM PER MINGGU NAMUN ADA PENGECUALIANNYA PADA PASAL 3 KEPPRES NO : 68 TAHUN 1995

KEPUTUSAN PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA
NOMOR 68 TAHUN 1995
TENTANG
HARI KERJA DI LINGKUNGAN LEMBAGA PEMERINTAH
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,

Menimbang:
a. Bahwa berdasarkan penilaian pelaksanaan uji coba penerapan 5 (lima) hari   kerja dalam satu Minggu yang dilaksanakan selama satu tahun terakhir, penerapan hari dan jam kerja yang baru perlu dilaksanakan secara bertahap di lingkungan Lembaga Pemerintah baik Tingkat Pusat maupun di lingkungan Pemerintah Daerah;
a. Bahwa untuk memberi landasan hukum yang cukup baik pelaksanaan hari dan jam kerja yang baru tersebut, dipandang perlu menetapkan dengan Keputusan Presiden.

Mengingat:
1. Pasal 4 ayat (1) Undang-Undang Dasar 1945;
2. Undang-undang Nomor 8 Tahun 1974 tentang Pokok-pokok Kepegawaian (Lembaga Negara Tahun 1974 Nomor 55, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3041);
3. Peraturan Pemerintah Nomor 30 Tahun 1980 tentang Peraturan Disiplin Pegawai Negeri Sipil (Lembaran Negara Tahun 1980 Nomor 50, Tambahan Lembaran Negara Nomor 3176).

MEMUTUSKAN:
Menetapkan:
KEPUTUSAN PRESIDEN TENTANG HARI KERJA DI LINGKUNGAN LEMBAGA PEMERINTAH

Pasal 1
(1) Hari kerja bagi seluruh lembaga Pemerintah Tingkat Pusat dan Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya ditetapkan lima hari kerja mulai hari Senin sampai dengan hari Jumat.
(2) Jumlah jam kerja efektif dalam lima hari kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat (1)adalah7,5jam, dan ditetapkan sebagai berikut:
a. Hari Senin sampai dengan Hari Kamis: Jam 07.30 – 16.00 Waktu istirahat: Jam 12.00 – 13.00
b. Hari Jumat:Jam 07.30 – 16.30 Waktu istirahat:Jam 11.30 – 13.00.

Pasal 2
Ketentuan tentang hari dan jam kerja bagi Angkatan Bersenjata Republik Indonesia termasuk Pegawai Negeri Sipil yang bekerja di lingkungan Angkatan Bersenjata Republik Indonesia ditetapkan tersendiri oleh Menteri Pertahanan dan Keamanan setelah mendengar pertimbangan Panglima Angkatan Bersenjata Republik Indonesia.

Pasal 3
(1) Dikecualikan dari ketentuan tentang hari dan jam kerja sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 adalah:
a. Unit-unit di lingkungan lembaga Pemerintah sebagaimana dimaksud dalam Pasal 1 yang tugasnya bersifat pemberian pelayanan kepada masyarakat;
b. Lembaga pendidikan mulai dari Sekolah Dasar (SD), Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP), dan Sekolah Lanjutan Atas (SLTA); Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri atau Pimpinan Lembaga Pemerintah dengan koordinasi dan setelah mendapat persetujuan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara.
(2) Pelaksanaan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri atau Pimpinan Lembaga Pemerintah dengan koordinasi dan setelah mendapat persetujuan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara.

Pasal 4
(1) Penerapan ketentuan tentang hari dan jam kerja di lingkungan Pemerintah Daerah Tingkat I selain Pemerintah Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya, lembaga Pemerintah tingkat Pusat ang berada di Daerah serta Pemerintah Daerah Tingkat II,dilakukan secara bertahap sesuai dengan kesiapan dan kebutuhan masing-masing daerah.
(2) Pelaksanaan penerapan ketentuan tentang hari dan jam kerja sebagaimana dimaksud dalam ayat(1) ditetapkan lebih lanjut oleh Menteri Dalam Negeri atau Menteri Teknis yang bersangkutan dengan koordinasi dan setelah mendapat persetujuan Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara.
Pasal 5
Menteri atau Pimpinan Lembaga yang menerapkan lima hari kerja dapat mengatur penugasan
siaga tugas pada hari Sabtu di lingkungan lembaga masing-masing.

Pasal 6
Bagi Lembaga Pemerintah yang melaksanakan ketentuan tentang hari dan jam kerja sebagaimana diatur dalam Keputusan Presiden ini tidak berlaku ketentuan serupa yang ditetapkan dalam Keputusan Presiden Nomor 58 Tahun 1964 tentang Jam Kerja Pada Kantor-kantor Pemerintah Republik Indonesia dan Keputusan Presiden Nomor 24 Tahun 1972tentang Jam Kerja Dalam Daerah Khusus Ibukota Jakarta Raya.

Pasal 7
Keputusan Presiden ini mulai berlaku pada tanggal 1 Oktober 1995.

Ditetapkan Di Jakarta,
Pada Tanggal 27 September 1995
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA,
Ttd.
SOEHARTO

DASAR RUJUKAN UNTUK MELAKSANAKAN IBADAH QUR’BAN

Panduan Ibadah Qurban

Label: Qurban

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman yang artinya, Maka shalatlah untuk Rabbmu dan sembelihlah hewan.” (Qs. Al Kautsar: 2)

Syaikh Abdullah Alu Bassaam mengatakan, “Sebagian ulama ahli tafsir mengatakan; yang dimaksud dengan menyembelih hewan adalah menyembelih hewan qurban setelah shalat Ied.” Pendapat ini dinukil dari Qatadah, Atha’ dan Ikrimah (Taisirul ‘Allaam, 534, Taudhihul AhkaamIV/450, & Shahih Fiqih Sunnah II/366). Dalam istilah ilmu fiqih hewan qurban biasa disebut dengan nama Al Udh-hiyah yang bentuk jamaknya Al Adhaahi (dengan huruf ha’ tipis).

Pengertian Udh-hiyah

Udh-hiyah adalah hewan ternak yang disembelih pada hari Iedul Adha dan hari Tasyriq dalam rangka mendekatkan diri kepada Allah karena datangnya hari raya tersebut (lihat Al Wajiz, 405 dan Shahih Fiqih Sunnah II/366)

Keutamaan Qurban

Menyembelih qurban termasuk amal salih yang paling utama. ‘Aisyah radhiyallahu’anha menceritakan bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Tidaklah anak Adam melakukan suatu amalan pada hari Nahr (Iedul Adha) yang lebih dicintai oleh Allah melebihi mengalirkan darah (qurban), maka hendaknya kalian merasa senang karenanya.” (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al Hakim dengan sanad sahih, lihat Taudhihul Ahkam, IV/450)

Hadis di atas didla’ifkan oleh Syaikh Al Albani (Dla’if Ibn Majah, 671). Namun kegoncangan hadis di atas tidaklah menyebabkan hilangnya keutamaan berqurban. Banyak ulama menjelaskan bahwa menyembelih hewan qurban pada hari idul Adlha lebih utama dari pada sedekah yang senilai atau seharga dengan hewan qurban, atau bahkan lebih utama dari pada sedekah yang lebih banyak dari pada nilai hewan qurban. Karena maksud terpenting dalam berqurban adalah mendekatkan diri kepada Allah. Bukan semata-mata nilai binatangnya. Disamping itu, menyembelih qurban lebih menampakkan syi’ar islam dan lebih sesuai dengan sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (lihat Shahih Fiqh Sunnah 2/379 & Syarhul Mumthi’ 7/521)  

Hukum Qurban

Dalam hal ini para ulama terbagi dalam dua pendapat:

Pertama: Wajib bagi orang yang berkelapangan. Ulama yang berpendapat demikian adalah Rabi’ah (guru Imam Malik), Al Auza’i, Abu Hanifah, Imam Ahmad dalam salah satu pendapatnya, Laits bin Sa’ad beserta beberapa ulama pengikut Imam Malik, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, dan Syaikh Ibnu ‘Utsaiminrahimahumullah. Syaikh Ibn Utsaimin mengatakan: “Pendapat yang menyatakan wajib itu tampak lebih kuat dari pada pendapat yang menyatakan tidak wajib. Akan tetapi hal itu hanya diwajibkan bagi yang mampu…” (lih. Syarhul Mumti’, III/408)

Diantara dalilnya adalah hadits Abu Hurairah yang menyatakan bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Barangsiapa yang berkelapangan (harta) namun tidak mau berqurban maka jangan sekali-kali mendekati tempat shalat kami.” (HR. Ibnu Majah 3123, Al Hakim 7672 dan dihasankan oleh Syaikh Al Albani)

Pendapat kedua: menyatakan Sunnah Mu’akkadah (ditekankan). Dan ini adalah pendapat mayoritas ulama yaitu Malik, Syafi’i, Ahmad, Ibnu Hazm dan lain-lain. Ulama yang mengambil pendapat ini berdalil dengan riwayat dari Abu Mas’ud Al Anshari radhiyallahu ‘anhu. Beliau mengatakan, “Sesungguhnya aku sedang tidak berqurban. Padahal aku adalah orang yang berkelapangan. Itu kulakukan karena aku khawatir kalau tetanggaku mengira qurban itu adalah wajib bagiku.” (HR. Abdur Razzaq dan Baihaqi dengan sanad shahih).

Demikian pula dikatakan oleh Abu Sarihah, “Aku melihat Abu Bakar dan Umar sementara mereka berdua tidak berqurban.” (HR. Abdur Razzaaq dan Baihaqi, sanadnya shahih)

Ibnu Hazm berkata, “Tidak ada riwayat sahih dari seorang sahabatpun yang menyatakan bahwa qurban itu wajib.” (lihat Al Muhalla 5/295, dinukil dari Shahih Fiqih Sunnah II/367-368, dan Taudhihul Ahkaam, IV/454).

Dalil-dalil di atas merupakan dalil pokok yang digunakan masing-masing pendapat. Jika dijabarkan semuanya menunjukkan masing-masing pendapat sama kuat. Sebagian ulama memberikan jalan keluar dari perselisihan dengan menasehatkan: “…selayaknya bagi mereka yang mampu, tidak meninggalkan berqurban. Karena dengan berqurban akan lebih menenangkan hati dan melepaskan tanggungan, wallahu a’lam. (Tafsir Adwa’ul Bayan, 1120).

Yakinlah…! Bagi mereka yang berqurban, Allah akan segera memberikan ganti biaya qurban yang dia keluarkan. Karena setiap pagi Allah mengutus dua malaikat, yang satu berdo’a: “Yaa Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfaq.” Dan yang kedua berdo’a: “Yaa Allah, berikanlah kehancuran bagi orang yang menahan hartanya (pelit).” (HR. Al Bukhari 1374 & Muslim 1010).

Hewan yang Boleh Digunakan untuk Qurban

Hewan qurban hanya boleh dari jenis Bahiimatul Al An’aam (hewan ternak). Dalilnya adalah firman Allah yang artinya, “Dan bagi setiap umat Kami berikan tuntunan berqurban agar kalian mengingat nama Allah atas rezki yang dilimpahkan kepada kalian berupa hewan-hewan ternak (bahiimatul an’aam).” (Qs. Al Hajj: 34).

Dalam bahasa arab, yang dimaksud Bahiimatul Al An’aam hanya mencakup tiga binatang yaitu onta, sapi atau kambing. Oleh karena itu, berqurban hanya sah dengan tiga hewan tersebut dan tidak boleh selain itu. Bahkan sekelompok ulama menukilkan adanya ijma’ (kesepakatan) bahwasanya qurban tidak sah kecuali dengan hewan-hewan tersebut (lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/369 dan Al Wajiz 406)

Syaikh Ibnu ‘Utsaimin mengatakan, “Bahkan jika seandainya ada orang yang berqurban dengan jenis hewan lain yang lebih mahal dari pada jenis ternak tersebut maka qurbannya tidak sah. Andaikan dia lebih memilih untuk berqurban seekor kuda seharga 10.000 real sedangkan seekor kambing harganya hanya 300 real maka qurbannya (dengan kuda) itu tidak sah…” (Syarhul Mumti’ III/409)

Seekor Kambing untuk Satu Keluarga

Seekor kambing cukup untuk qurban satu keluarga, dan pahalanya mencakup seluruh anggota keluarga meskipun jumlahnya banyak, baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Sebagaimana hadits Abu Ayyub radhiyallahu’anhu yang mengatakan, “Pada masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam seseorang (suami) menyembelih seekor kambing sebagai qurban bagi dirinya dan keluarganya.” (HR. Tirmidzi dan beliau menilainya shahih, lihat Minhaajul Muslim, 264 dan 266)

Oleh karena itu, tidak selayaknya seseorang mengkhususkan qurban untuk salah satu anggota keluarganya tertentu, misalnya qurban tahun ini untuk bapaknya, tahun depan untuk ibunya, tahun berikutnya untuk anak pertama, dan seterusnya. Sesungguhnya karunia dan kemurahan Allah sangat luas maka tidak perlu dibatasi.

Bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam berqurban untuk dirinya dan seluruh umatnya. Suatu ketika beliau hendak menyembelih kambing qurban, sebelum menyembelih beliau mengatakan: Yaa Allah ini – qurban – dariku dan dari umatku yang tidak berqurban.” (HR. Abu Daud 2810 & Al Hakim 4/229 dan dishahihkan Syaikh Al Albani dalam Al Irwa’ 4/349).

Berdasarkan hadis ini, Syaikh Ali bin Hasan Al Halaby mengatakan: Kaum muslimin yang tidak mampu berqurban, mendapatkan pahala sebagaimana orang berqurban dari umat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.”

Adapun yang dimaksud: “…kambing hanya boleh untuk satu orang, sapi untuk tujuh orang, dan onta 10 orang…” adalah biaya pengadaannya. Biaya pengadaan kambing hanya boleh dari satu orang, biaya pengadaan sapi hanya boleh dari maksimal tujuh orang dan qurban onta hanya boleh dari maksimal 10 orang.

Namun seandainya ada orang yang hendak membantu shohibul qurban yang kekurangan biaya untuk membeli hewan, maka diperbolehkan dan tidak mempengaruhi status qurbannya. Dan status bantuan di sini adalah hadiah bagi shohibul qurban. Apakah harus izin terlebih dahulu kepada pemilik hewan? Jawab: Tidak harus, karena dalam transaksi pemberian sedekah maupun hadiah tidak dipersyaratkan memberitahukan kepada orang yang diberi sedekah maupun hadiah.

Ketentuan Untuk Sapi dan Onta

Seekor Sapi dijadikan qurban untuk 7 orang. Sedangkan seekor onta untuk 10 orang. Dari Ibnu Abbasradhiyallahu’anhu beliau mengatakan, “Dahulu kami penah bersafar bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam lalu tibalah hari raya Iedul Adha maka kami pun berserikat sepuluh orang untuk qurban seekor onta. Sedangkan untuk seekor sapi kami berserikat sebanyak tujuh orang.” (Shahih Sunan Ibnu Majah 2536, Al Wajiz, hal. 406).

Dalam masalah pahala, ketentuan qurban sapi sama dengan ketentuan qurban kambing. Artinya urunan 7 orang untuk qurban seekor sapi, pahalanya mencakup seluruh anggota keluarga dari 7 orang yang ikut urunan.

Arisan Qurban Kambing?

Mengadakan arisan dalam rangka berqurban masuk dalam pembahasan berhutang untuk qurban. Karena hakekat arisan adalah hutang. Sebagian ulama menganjurkan untuk berqurban meskipun harus hutang. Di antaranya adalah Imam Abu Hatim sebagaimana dikatakan oleh Sufyan Ats Tsauri dan disebutkan oleh Ibnu Katsir dalam tafsirnya (Tafsir Ibn Katsir, surat Al Hajj: 36)[1]. Demikian pula Imam Ahmad dalam masalah aqiqah. Beliau menyarankan agar orang yang tidak memiliki biaya aqiqah agar berhutang dalam rangka menghidupkan sunnah aqiqah di hari ketujuh setelah kelahiran.

Sebagian ulama lain menyarankan untuk mendahulukan pelunasan hutang dari pada berqurban. Di antaranya adalah Syaikh Ibn Utsaimin dan ulama tim fatwa islamweb.net dibawah bimbingan Dr. Abdullah Al Faqih (lih. Fatwa Syabakah Islamiyah no. 7198 & 28826). Syaikh Ibn Utsaimin mengatakan: Jika orang punya hutang maka selayaknya mendahulukan pelunasan hutang dari pada berqurban.” (Syarhul Mumti’ 7/455).

Bahkan Beliau pernah ditanya tentang hukum orang yang tidak jadi qurban karena uangnya diserahkan kepada temannya yang sedang terlilit hutang, dan beliau jawab: “Jika di hadapkan dua permasalahan antara berqurban atau melunaskan hutang orang faqir maka lebih utama melunasi hutang, lebih-lebih jika orang yang sedang terlilit hutang tersebut adalah kerabat dekat.” (lih. Majmu’ Fatawa & Risalah Ibn Utsaimin 18/144).

Namun pernyataan-pernyataan ulama di atas tidaklah saling bertentangan. Karena perbedaan ini didasari oleh perbedaan dalam memandang keadaan orang yang berhutang. Sikap ulama yang menyarankan untuk berhutang ketika qurban terkait dengan orang yang keadaanya mudah dalam melunasi hutang atau hutang yang jatuh temponya masih panjang. Sedangkan anjuran sebagian ulama untuk mendahulukan pelunasan hutang dari pada qurban terkait dengan orang yang kesulitan melunasi hutang atau orang yang memiliki hutang dan pemiliknya meminta agar segera dilunasi.

Dengan demikian, jika arisan qurban kita golongkan sebagai hutang yang jatuh temponya panjang atau hutang yang mudah dilunasi maka berqurban dengan arisan adalah satu hal yang baik. Wallahu a’lam.

Hukum Qurban Kerbau

Para ulama’ menyamakan kerbau dengan sapi dalam berbagai hukum dan keduanya dianggap sebagai satu jenis (Mausu’ah Fiqhiyah Quwaithiyah 2/2975). Ada beberapa ulama yang secara tegas membolehkan berqurban dengan kerbau. Baik dari kalangan Syafi’iyah (lih. Hasyiyah Al Bajirami) maupun dari madzhab Hanafiyah (lih. Al ‘Inayah Syarh Hidayah 14/192 dan Fathul Qodir 22/106). Mereka menganggap keduanya satu jenis.

Syaikh Ibn Al Utasimin pernah ditanya tentang hukum qurban dengan kerbau.  

Isi Pertanyaan: “Kerbau dan sapi memiliki perbedaan adalam banyak sifat sebagaimana kambing dengan domba. Namun Allah telah merinci penyebutan kambing dengan domba tetapi tidak merinci penyebutan kerbau dengan sapi, sebagaimana disebutkan dalam surat Al An’am 143. Apakah boleh berqurban dengan kerbau?”

Beliau menjawab: “Jika kerbau termasuk (jenis) sapi maka kerbau sebagaimana sapi namun jika tidak maka (jenis hewan) yang Allah sebut dalam alqur’an adalah jenis hewan yang dikenal orang arab, sedangkan kerbau tidak termasuk hewan yang dikenal orang arab.” (Liqa’ Babil Maftuh 200/27)

Jika pernyataan Syaikh Ibn Utsaimin kita bawa pada penjelasan ulama di atas maka bisa disimpulkan bahwa qurban kerbau hukumnya sah, karena kerbau sejenis dengan sapi. Wallahu a’lam.

Urunan (iuran) Qurban Satu Sekolahan

Terdapat satu tradisi di beberapa lembaga pendidikan di daerah kita, ketika idul adha tiba sebagian sekolahan menggalakkan kegiatan latihan qurban bagi siswa. Masing-masing siswa dibebani iuran sejumlah uang tertentu. Hasilnya digunakan untuk membeli kambing dan disembelih di hari-hari qurban. 

Apakah ini bisa dinilai sebagai ibadah qurban?
Perlu dipahami bahwa qurban adalah salah satu ibadah dalam islam yang memiliki aturan tertentu sebagaimana yang digariskan oleh syari’at. Keluar dari aturan ini maka tidak bisa dinilai sebagai ibadah qurban, alias qurbannya tidak sah. Di antara aturan tersebut adalah masalah pembiayaan. Sebagaimana telah dibahas sebelumnya, biaya pengadaan untuk seekor kambing hanya boleh diambilkan dari satu orang. Oleh karena itu kasus tradisi ‘qurban’ seperti di atas tidak dapat dinilai sebagai qurban. Karena biaya pengadaan kambing diambil dari sejumlah siswa.

Berqurban Atas Nama Orang yang Sudah Meninggal?

Berqurban untuk orang yang telah meninggal dunia dapat dirinci menjadi tiga bentuk:

  • Orang yang meninggal bukan sebagai sasaran qurban utama namun statusnya mengikuti qurban keluarganya yang masih hidup. Misalnya seseorang berqurban untuk dirinya dan keluarganya sementara ada di antara keluarganya yang telah meninggal. Berqurban jenis ini dibolehkan dan pahala qurbannya meliputi dirinya dan keluarganya, termasuk yang sudah meninggal.
  • Berqurban khusus untuk orang yang telah meninggal tanpa ada wasiat dari mayit. Sebagian ulama madzhab hambali menganggap ini sebagai satu hal yang baik dan pahalanya bisa sampai kepada mayit, sebagaimana sedekah atas nama mayit (lih. Fatwa Majlis Ulama Saudi no. 1474 & 1765). Namun sebagian ulama’ bersikap keras dan menilai perbuatan ini sebagai satu bentuk bid’ah, mengingat tidak ada tuntunan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Tidak ada riwayat bahwasanya beliau berqurban atas nama Khadijah, Hamzah, atau kerabat beliau lainnya yang telah meninggal, mendahului beliaushallallahu ‘alaihi wa sallam. Pendapat yang lebih kuat dalam masalah ini adalah pendapat yang menyatakan bahwa berqurban atas nama orang yang sudah meninggal secara khusus tanpa ada wasiat sebelumnya adalah tidak disyariatkan. Karena Nabi Shallallahu’alaihi wa sallam tidak pernah melakukan hal itu. Padahal beliau sangat mencintai keluarganya yang telah meninggal seperti istri beliau tercinta Khadijah dan paman beliau Hamzah.
  • Berqurban khusus untuk orang yang meninggal karena mayit pernah mewasiatkan agar keluarganya berqurban untuk dirinya jika dia meninggal. Berqurban untuk mayit untuk kasus ini diperbolehkan jika dalam rangka menunaikan wasiat si mayit. (Dinukil dari catatan kaki Syarhul Mumti’ yang diambil dariRisalah Udl-hiyah Syaikh Ibn Utsaimin 51)

Umur Hewan Qurban

Dari Jabir bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Janganlah kalian menyembelih (qurban) kecuali musinnah. Kecuali apabila itu menyulitkan bagi kalian maka kalian boleh menyembelih domba jadza’ah.”(Muttafaq ‘alaih)

Musinnah adalah hewan ternak yang sudah dewasa, diambil dari kata sinnun yang artinya gigi. Hewan tersebut dinamakan musinnah karena hewan tersebut sudah ganti gigi (bahasa jawa: pow’el). Adapun rincian usia hewan musinnah adalah:

Hewan Usia minimal

  • Onta 5 tahun
  • Sapi 2 tahun
  • Kambing jawa 1 tahun
  • Domba 6 bulan (domba Jadza’ah) (lihat Syarhul Mumti’, III/410, Taudhihul Ahkaam, IV/461)  

Apakah yang menjadi acuan usianya ataukah ganti giginya?
Yang menjadi acuan hewan tersebut bisa digolongkan musinnah adalah usianya. Karena penamaanmusinnah untuk hewan yang sudah genap usia qurban adalah penamaan dengan umumnya kasus yang terjadi. Artinya, umumnya kambing yang sudah berusia 1 tahun atau sapi 2 tahun itu sudah ganti gigi. Disamping itu, ketika para ulama menjelaskan batasan hewan musinnah dan hewan jadza’ah, mereka menjelaskannya dengan batasan usia. Dengan demikian, andaikan ada sapi yang sudah berusia 2 tahun namun belum ganti gigi, boleh digunakan untuk berqurban. Allahu a’lam.

Berkurban dengan domba jadza’ah itu dibolehkan secara mutlak ataukah bersyarat
Ulama berselisih pendapat dalam masalah ini. An Nawawi menyebutkan ada beberapa pendapat:

  • Pertama, boleh berqurban dengan hewan jadza’ah dengan syarat kesulitan untuk berqurban dengan musinnah. Pendapat ini diriwayatkan dari Ibn Umar dan Az Zuhri. Mereka berdalil dengan makna dlahir hadis di atas.
  • Kedua, dibolehkan berqurban dengan domba jadza’ah (usia 6 bulan) secara mutlak. Meskipun shohibul qurban memungkinkan untuk berqurban dengan musinnah (usia 1 tahun). Pendapat ini dipilih oleh mayoritas ulama. Sedankan hadis Jabir di atas dimaknai dengan makna anjuran. Sebagaimana dianjurkannya untuk memilih hewan terbaik ketika qurban.

Insyaa Allah pendapat kedua inilah yang lebih kuat. Karena pada hadis Jabir di atas tidak ada keterangan terlarangnya berqurban dengan domba jadza’ah dan tidak ada keterangan bahwa berqurban dengan jadza’ah hukumnya tidak sah. Oleh karena itu, Jumhur ulama memaknai hadis di atas sebagai anjuran dan bukan kewajiban. Allahu a’lam. (Syarh Shahih Muslim An Nawawi 6/456)  

Cacat Hewan Qurban

Cacat hewan qurban dibagi menjadi 3:

a. Cacat yang menyebabkan tidak sah untuk berqurban, ada 4 [2]:

  • Buta sebelah dan jelas sekali kebutaannya Jika butanya belum jelas – orang yang melihatnya menilai belum buta – meskipun pada hakekatnya kambing tersebut satu matanya tidak berfungsi maka boleh diqurbankan. Demikian pula hewan yang rabun senja. ulama’ madzhab syafi’iyah menegaskan hewan yang rabun boleh digunakan untuk qurban karena bukan termasuk hewan yang buta sebelah matanya.
  • Sakit dan jelas sekali sakitnya. Tetapi jika sakitnya belum jelas, misalnya, hewan tersebut kelihatannya masih sehat maka boleh diqurbankan.
  • Pincang dan tampak jelas pincangnya Artinya pincang dan tidak bisa berjalan normal. Akan tetapi jika baru kelihatan pincang namun bisa berjalan dengan baik maka boleh dijadikan hewan qurban.
  • Sangat tua sampai-sampai tidak punya sumsum tulang Dan jika ada hewan yang cacatnya lebih parah dari 4 jenis cacat di atas maka lebih tidak boleh untuk digunakan berqurban. (lih. Shahih Fiqih Sunnah, II/373 & Syarhul Mumti’ 3/294).

b. Cacat yang menyebabkan makruh untuk berqurban, ada 2 [3]:

  • Sebagian atau keseluruhan telinganya terpotong – Tanduknya pecah atau patah (lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/373)

c. Cacat yang tidak berpengaruh pada hewan qurban (boleh dijadikan untuk qurban) namun kurang sempurna. Selain 6 jenis cacat di atas atau cacat yang tidak lebih parah dari itu maka tidak berpengaruh pada status hewan qurban. Misalnya tidak bergigi (ompong), tidak berekor, bunting, atau tidak berhidung.Wallahu a’lam (lihat Shahih Fiqih Sunnah, II/373)

KENAIKAN HARGA BBM

Bahan bakar minyak atau (BBM) adalah energi yang menjadi puncak kemaslahatan orang banyak. Sebab kita tidak mungkin dapat terhindar dari yang namanya energi. Mulai dari energi panas sampai dengan energi untuk keperluan transportasi kita.
Manusia adalah mahluk yang dinamis sehingga hampir setiap saat selalu ada perubahan posisi. Hal ini sesui dengan target dari jadwal atau scaijule yang sudah direncanakan. Dengan menggunakan energi transportasi maka akan memudahkan orang berinteraksi sesuai dengan kebutuhan.
IMG_1175Tidak itu saja penerangan rumah dan informatika juga membutuhkan energi listrik. Hal ini sangat vital. Sehingga mati listrik merupakan pukulan besar dari program kehidupan manusia. Sebab hampir seluruh kegiatan industri dan komunikasi termasuk juga hiburan dan informatika membutuhkan energi listrik yang besar.
Dengan demikian mahluk manusia sulit dipisahkan dengan yang namanya energi. Padahal hampir setiap hari orang membutuhkan peningkatan dalam urusan energi ini.
Bila orang biasa membayar energi dengan kuota yang sudah ditentukan kemudian tiba tiba ada perubahan atau kenaikan maka akan meyebabkan pembengkakan didalam hal bagjet energi. Dengan akan adanya kenaikan BBM maka komposisi barang barang ekonomi lainnya termasuk pangan jelas akan ikut naik.
Dalam hal ini yang akan menjadi korban adalah rakyat kecil atau warga yang berpenghasilan rendah. Apa bila anggaran belanja tersedot seluruhnya ke tatanan energi jelas akan menyebabkan angka kemiskinan kita naik atau bertambah. Tidak itu saja kebodohan juga akan mengiringinya karena dana energi membutuhkan biaya yang besar sehingga sektor untuk pendidikan keluarga akan mengalami gangguan.

WASPADA ISIS

Isis adalah kepanjangan dari Islamic of State Irak dan Siria. Paham ini muncul karena di Irak dan Siria kondisinya labil akibat dari perang saudara yang berkepanjangan. Kondisi yang serba tidak menentu itu para kelompok radikal disana berkeinginan membuat negara dalam negara dalam bentuk kekhalifaan.
Padahal saat ini kekhalifaan sudah tidak ada lagi dan sudah tidak cocok lagi dengan zaman yang serba tanpa batas ini.
Pemaksaan membentuk negara di dalam sebuah negaa adalah sebuah tindakan yang biadab. Hal ini akan memicu keresahan dan konflik.
Oleh karena itu di Indonesia faham ISIS akan banyak ditentang. Sebab selain hal ini bertentangan dengan syariat Islam juga promosi paham ini tidak menarik. Indonesia memang bukan Negara Islam, namun Indonesia mempunyai Pancasila. Semua warga negara apapun agamanya akan dilindungi Negara dan kepadanya dibebaskan untuk menjalankan semua ajaran agama yang di anutnya.
Oleh karena itu hidup di Indonesia sangat nyaman dan membuat kerasan kepada siapa saja yang hidup di Indonesia, Indonesia adalah negara hukum dan semua warga negara sama kedudukannya di hadapan hukum. Indonesia adalah bentuk Republik bukan khalifah ataupun kerajaan.
Walaupun ISIS mengatasnamakan agama dalam slogan slogannya. Namun penganut ISIS tidak pernah mencerminkan pola hidup sebagai seorang Muslim. Mereka lebih suka mengumbar nafsu dan angkara murka. Sehingga mereka pantas kalau harus diperangi untuk dibinasakan.
Perbuatan biadab bukan ciri seorang Muslim. Sebab Muslim yang sejati dimanapun berada akan menimbulkan kedamaian. Sedangkan orang maupun kelompok orang yang dalam hidupnya selalu membuat konflik dan kekerasan maka kelompok ini sama dengan teroris

KEMERDEKAAN RI KE 69

logo-hut-ke-69-kemerdekaan-indonesia

CHABIB JUNAEDI KOMENTAR KEMERDEKAAN RI KE 69

CHABIB JUNAEDI KOMENTAR KEMERDEKAAN RI KE 69

Kemerdekaan RI di tahun 2014 telah memasuki usia yang ke 69, suatu usia yang sudah tidak tergolong muda. Ini adalah untuk menikmati hasil perjuangan yang sudah direbut dengan susah payah dari para penjajah, seperti Belanda, Portugis, Inggris dan Jepang. Sehingga usia ini sudah tidak pada tempatnya lagi seharusnya kalau bangsa Indonesia harus masih berjuang untuk menggapai kesejah teraan. Mestinya dalam usia ini sudah harus sejahtera. Karena kekayaan alam Indonesia sangat melimpah dan alam kemerdekaan ini juga sudah cukup lama dinikmati.
Kita lihat saja Jepang sama sama hancur pada tahun 1945 karena di bom atom oleh sekutu di kota Herosima dan Nagasaki, namun dalam usia yang sama dengan Indonesia Jepang saat ini katagori Negara Maju bukan berkembang. Sedangkan Indonesia masih negara yang harus menata dalam rangka menuju kesejahteraan. Mengapa demikian ?
Para pejuang bangsa Indonesia sudah memberikan warisan tanah leluhur yang sangat luas yang terbentang dari sabang hingga ke meraoke. Dan didalamnya terdapat daratan dan lautan yang terhampar luas dengan segenap kekayaan alamnya. Semua itu adalah untuk kesejahteraan seluruh Bangsa Indonesia. Namun kenyataannya banyak dari tanah leluhur Bangsa Indonesia yang sudah secaa syah masuk ke dalam wilayah teritorial Bangsa Indonesia masih ada saja yang harus lepas karena di caplok oleh Bangsa Lain. Seperti Malaysa, Cina dan juga Amerika Serikat. Mestinya tidak ada sejengkal tanahpun yang dengan mudah dilepas dan diakui oleh bangsa lain. Dan ini harusnya  dibayar dengan nyawa dan tetes darah terakhir bila  perundingan mengalami jalan buntu.
Masalah yang lain adalah soal kekayaan Indonesia. Hingga saat ini kita memang menjalain mitra kerja dengan bangsa lain seperti Cina, Korea, Amerika dan jepang. Namun realisasi kerja sama itu kita selalu kalah sebagai bangsa yang selalu merugi baik dalam hal ekplorasi penambangan maupun dalam hal bagi hasil secara busness.
Mestinya semua kerja sama dengan bangsa lain itu harus dihentikan dan diambil alih oleh bangsa Indonesia sendiri sebagai bangsa yang mandiri. Sudah terlalu banyak kerugian ekplorasi barang tambang yang seakan akan terkuras masuk ke negara lain. Bahkan termasuk kerja sama pembangkit listrikpun juga kita selalu dalam kondisi yang merugi, baik dalam hal MOU maupun dalam operasionalisainya.
Masalah interenpun di dalam negeri seperti korupsi dan sejenisnya masih tumbuh subur dan entah kapan mau berakhir.
Sungguh memilukan memang, usia merdeka yang sudah 69 tahun namun kemiskinan masih sangat banyak, kebobrokan mental juga makin meraja lela, bidang pendidikan juga masih mencontoh dan mencoba dari konsep negara lain. Inikah cara kita didalam mengisi kemerdekaan yang berkurun waktu 69 tahun ?
Kita tentunya tidak ingin di cap sebagai penghianat bangsa, untuk itu mari kita rubah mainset kita tentang mengisi kemerdekaan dari konsep yang semula konsumtip menjadi konsep yang produktip, dari agen pengguna menjadi agen pencipta dan dari bangsa yang tergantung bangsa lian menjadi bangsa yang mandiri.
Demikian selamat ber HUT RI ke 69

KELUARGA KUNINGAN KUNJUNGI MAKAM

Sobir Arbangi, S.SiT

Sobir Arbangi, S.SiT

Chabib Junaedi, S.Pd

Chabib Junaedi, S.Pd

Kemarin keluarga kuningan Nunung Agus mengunjungi makam bapak Mualip di tanah pemakaman umum Karang Suci Cilacap. Keluarga Nunung Agus ini sengaja datang ke Cilacap, karena memang sudah cukup lama mereka tidak menengok makam Bapak Mualip arkhamakumullah.
Keluarga kuningan ini tampaknya tidak memanfaatkan momen silaturahmi ini karena tampaknya ada yang disembunyikan perihal kedatangannya di Cilacap. Kemungkinan mereka lagi ribut soal tanah, entah tanah mana yang dimaksud. Sebab saat datang di Jl. Kranji Tegalreja mereka kok menanyakan hal SPPT, kepada adik kandungku Sobir Arbangi.
Mestinya momen idul fitri ini mutlak hanya untuk saling maaf memaafkan atas segala kesalahan dan juga untuk melepas rindu karena sudah sekian lama tidak ketemu.

Setelah bertolak dari makam dengan sangat terburu buru, keluarga Kuningan ini tidak mau kembali ke persinggahan semula di Kranji Tegalreja Cilacap, namaun berbegebas ingin ke tempat lain dan juga wisata dan langsung pulang. Padahal kedatangan mereka baru kurang lebih dibawah satu jam.
Keluarga Kuningan Jawa Barat ini sampai sekarang telah dikaruniai tiga orang anak yang semuanya laki laki dan sudah menginjak remaja dan dewasa. Namun keluarga beda kota ini tampaknya tidak begitu akrab dengan keluarga di Cilacap, baik itu saat orang tua masih hidup samapi saat ini orang tua sudah tiada.
Tidak hanya di antar kota Cilacap dan Kuningan. Di desa nyakra saja tempat kakek dan nenek berasal terdapat dua kubu yang tidak mesra. Hal ini mengakibatkan hubungan antar saudara ini hampa. Walaupun kalau duduk berdekatanpun mereka dapat tersenyum.
Secara pasti penulis tidak bisa menulis penyebab secara pasti namun hanya dapat menulis tentang efek hubungan antar

Ibu RT 07 RW V Tegalreja CLP

Sri Djumini

. dan inter saudara.
Istriku Sri Djumini juga kaget dengan lebaran tahun ini yang katanya kedatangan tamu dari Kuningan Jawa Barat. Sebab bila keluarga Kuningan mau kembali barang sebentar saja ke Kranji syukur syukur mau mampir ke Jalan Nuri Timur Tegalreja ini akan ikut memberi suguhan ada kadarnya dalam rangka menyambut tamu jauh dari Kuningan Jawa Barat ini. Namun apa yang diprediksi semula semua jadi tidak berkesan dan berefek menyebalkan. Untuk tahun depan katanya kalau mau datang bila hanya ingin ke makam ya ke makam saja sekaliayan nggak usah memberi tahu mampir.

Semoga di tahun tahun mendatang akan ada perubahan. Itu yang diharapkan sebab antara keluarga di Cilacap, Majenang dan Kuningan tampaknya sudah saling lepas. Namun itulah yang terjadi